RSS

Senin, 09 Juli 2018

Cerpen - Jangan harapkan pelangi jika kau takut hujan.

Sudah setengah jam aku menunggumu disini, iya di kafe yang semalam kau sebutkan akan menjadi tempat pertemuan kita yang sudah beratus kali. Sebenarnya aku tidak ingin bertemu denganmu, menoreh luka menggores asa. Tapi biarlah mencintaimu menjadi urusanku, selebihnya terserah padamu.

"Untukmu,  sang pecinta kopi.
Selamat siang, "
Tulis ku,  waktu menunggumu ku gunakan untuk menulis hal romantis yang selalu ku lalukan kepada nya.
Iya, dia yang sangat kau benci, yang sampai sampai membuatmu berkata dan berkomentar tentang kisahku
"sesuatu yang baik seharusnya dimulai dengan cara yang baik,  iya aku tahu kamu mulai dengan cara yang baik karena kamu gak tahu apa apa tapi dia? Dia tahu ini gak baik tapi tetep dimulai kan? Harusnya dia memulainya menunggu waktu yang baik bukan sekarang. Aku gak pernah doa yang jelek buat kamu, kok kamu bisa sepatah ini ya? ".

Waktu demi waktu terbuang. Namun kamu belum juga datang,  ku lanjutkan tulisan.
"yang harus kamu tau,

Aku gak akan pernah mau jadi gula di kopimu..
Karna gula cuma bisa larut.
Dan nyatanya,  kopi dicari karena terselip sisi pahit..
Dan aku gak mau cuma jadi pemanis".

Kurang lebih begitu. Sebenarnya aku sih gak tau dia itu pencinta kopi atau bukan, namun setelah ku baca berulang ulang seharusnya ada kalimat yang aku tambahkan atau bahkan ku ganti, mungkin seperti ini

"..............................Dan aku gak mau cuma jadi pemanis.
Untukmu, pencinta kopi.
Katakan jika ingin bertamu, jadi aku tidak bingung saat kau datang.
Harus memberimu kopi atau hati".

Memang lebih pas jika ditambah bukan diganti.

Satu jam berlalu,  kehadiranmu tak juga tiba. Aku hanya bisa membolak balikkan handphone sesekali ku lihat notifikasi instagram,  Whatsapp juga tidak ada kabar darimu.
Kamu bilang ada mobil yang membuat jalan macet, sudah sering ini terjadi. Tapi akupun sudah sering menanti.

Kamu datang, dengan keadaan basah kuyup. Sampai sampai aku mengira kau jalan kaki. Memang parkirannya cukup jauh, tapi kok bisa? Apa kamu gak sakit nantinya?
Aku bertanya,"Lah kamu kenapa gak telfon aku? Biar aku bawain payung? Aku udah siapin payung kok buat kamu?".
Dan kamu menjawab,"apa ada pertolongan yang lebih manis dari persiapan yang tanpa diminta?"
Ah, kamu selalu membuat wajahku merah.

Dan kamu berkata,"hujan pasti ngomong gini. Kamu gak suka aku?  Gak apa apa, kamu boleh berteduh kok. Aku gak akan pernah maksa untuk kamu basah karna aku".

Dengan cepat aku menjawab kesal.
"Jika kamu memang hujan,
Dan aku tidak suka hujan,
Kenapa kamu menyuruhku berteduh?"

Kamu pun langsung menjawab,
"Jika aku yang hujan,
dan kamu suka. Kamu boleh kok berteduh, jika tidak ingin basah

Karna suka belum tentu siap berkorban."

Aku langsung menjawab,
"suka itu kesenangan,
berteduh itu pilihan

Kadang kita boleh jadi memilih yang bukan kesenangan agar atau artinya kekecewaan"

Kamu langsung menjawab,"salah. Kali ini kamu salah dan harus ku perbaiki pikiranmu.
Yang benar begini :
kadang boleh jadi kita memilih yang bukan kesenangan atau tidak memilih yang padahal kesenangan hanya karna kita terlalu mengharapkan kebahagiaan dan takut akan kekecewaan."

Dan kamu kembali melanjutkan, "itu lebih tepatnya. Jangan kamu berlarut, hati itu bukan gula yang harus dilarutkan dalam sebuah kopi. Hidangkan kopinya jangan hatinya." matamu sambil melirik tulisanku disecarik kertas yang tepat ada dibawah handphone dan kunci mobilku.

"Kamu kangen? Atau kamu..."
Langsung ku patahkan,"sudahlah diam, aku hampir 2 jam menunggumu, ku buat saja itu".

Kamu menjawab dengan ledekan, "membuat tulisan tentang pencinta kopi? Tak sudah sudah masa lalumu.. Wajar 5 tahun hahaha tapi kok 5 tahun hanya bertamu, sampai kopi yang disajikan habis dan malah meminta hati.
Eh mana hatimu?
Sudah dikembalikan belum?
Kalo belum,
Sini biar aku yang ambil darinya".

Kata kosong yang tidak manis tapi selalu membuat senyum simpul diwajahku, selalu ada pelangi setelah hujan. Tapi jangan berharap pelangi akan datang kalau kamu tidak berani jalan ditengah hujan. Jemputlah kejarlah pelangimu, jangan peduli basahnya dirimu. Karena ketidaksenanganmu akan hujan belum tentu menggagalkanmu bertemu pelangi,  sebaliknya kesenanganmu akan hujan belum tentu membuatmu dapat melihat pelangi.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright mmshabrinaa's 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .